Donderdag, 02 Mei 2013


PERTUMBUHAN EKONOMI

I.              Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Prof. Simon Kuznets, pertumbuhan ekonomi merupakan kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin banyak jenis barang-barang ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, dan penyesuaian kelembagaan dan ideologis yang diperlukannya. (Jhingan, 2000)
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu kondisi dimana terjadinya perkembangan GNP yang mencerminkan adanya pertumbuhan output per kapita dan meningkatnya standar hidup masyarakat. (Asfia, 2009)
Pertumbuhan ekonomi juga berkaitan dengan kenaikan ”output perkapita”. Dalam pengertian ini teori tersebut harus mencakup teori mengenai pertumbuhan GDP dan teori mengenai pertumbuhan penduduk. Sebab hanya apabila kedua aspek tersebut dijelaskan, maka perkembangan output perkapita bisa dijelaskan. Kemudian aspek yang ketiga adalah pertumbuhan ekonomi dalam perspektif jangka panjang, yaitu apabila selama jangka waktu yang cukup panjang tersebut output perkapita menunjukkan kecenderungan yang meningkat (Boediono, 1992)

II.           Teori Pertumbuhan Klasik
Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik ada empat faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu : jumlah penduduk, jumlah stok barang-barang modal, luas tanah dan kekayaan alam, serta tingkat teknologi yang digunakan. Walaupun menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi tergantung pada banyak faktor, para ahli ekonomi klasik menitikberatkan perhatiaannya kepada pengaruh pertambahan penduduk pada pertumbuhan ekonomi.
Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik hukum hasil tambahan yang semakin berkurang (the law of diminishing return) akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Ini berarti pertumbuhan ekonomi tidak akan terus menerus berlangsung. Pada permulaannya, apabila penduduk sedikit dan kekayaan alam relatif berlebihan, tingkat pengembalian modal dari investasi yang dibuat adalah tinggi. Maka pengusaha akan mendapat keuntungan yang besar. Ini akan menimbulkan investasi baru, dan pertumbuhan ekonomi terwujud. Keadaan seperti ini tidak akan terus menerus berlangsung. Apabila penduduk sudah terlalu banyak, pertambahannya akan menurunkan tingkat kegiatan ekonomi karena produktivitas setiap penduduk telah menjadi negatif. Maka kemakmuran masyarakat menurun kembali. Ekonomi akan mencapai tingkat kemakmuran yang sangat rendah. Apabila keadaan ini dicapai, ekonomi dikatakan telah mencapai keadaan tidak berkembang (stasionary state). Pada keadaan ini pendapatan pekerja hanya mencapai tingkat cukup hidup (subsistence). Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik setiap masyarakat tidak akan mampu menghalangi terjadinya keadaan tidak berkembang tersebut.
Teori pertumbuhan ekonomi klasik melihat bahwa apabila terdapat kekurangan penduduk, produksi marginal adalah lebih tinggi daripada pendapatan perkapita. Maka pertambahan penduduk akan menaikkan pendapatan perkapita. Akan tetapi apabila pemduduk sudah semakin banyak, hukum hasil tambahan yang semakin berkurang akan mempengaruhi fungsi produksi, yaitu produksi marginal akan mulai mengalami penurunan. Oleh karenanya pendapatan nasional dan pendapatan perkapita menjadi semakin lambat pertumbuhannya.
Penduduk yang terus bertambah akan menyebabkan pada suatu jumlah penduduk yang tertentu produksi marginal telah sama dengan pendapatan perkapita. Pada keadaan ini pendapatan perkapita mencapai nilai yang maksimum. Jumlah penduduk pada waktu itu dinamakan penduduk optimum.

III.        Teori Rostow
Rostow menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses dari berbagai perubahan yaitu;
1.      Perubahan reorientasi organisas ekonomi
2.      Perubahan pandangan masyarakat
3.    Perubahan cara menabung atau menanamkan modal dari yang tidak produktif ke yang lebih produktif.
4.    Perubahan pandangan terhadap faktor alam. Manusia harus mengubah keyakinan bahwa alam itu tidak menentukan kehidupan manusia, tapi kehidupan manusia harus mampu menaklukkan/mengendalikan kekayaan alam sehingga apa yang tersedia dapat menjadi sumber kehidupan dalam mencapai kemakmuran.
Selanjutnya Rostow juga mengemukakan tahap-tahap dalam pertumbuhan ekonomi, sebagai berikut :
1.      The traditional society (masyarakat tradisional), artinya suatu kehidupan ekonomi masyarakat yang berkembang secara tradisional dan belum didasarkan pada perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, kadang-kadang cara berpikirnya primitive dan irrasional.
2.      The precondition for takeoff (prasyarat tinggal landas), merupakan masa transisi masyarakat untuk mempersiapkan dirinya mulai menerima teknik-teknik baru dan pemikira-pemikiran baru dari luar kehidupan mereka.
3.      The take off (tinggal landas), artinya pada tahap ini terjadi perubahan – perubahan yang sangat drastic dalam terciptanya kemajuan yang pesat dalam inovasi (penemuan-penemuan baru) dalam berproduksi dan lain sebagainya.
4.      The drive to maturity (menuju kematangan), artinya pada tahap ini masyarakat secara efektif telah menggunakan teknologi modern pada sebagian besar faktor-faktor produksi dan kekayaan alam.
5.  The age of high mass consumption (konsumsi tinggi), artinya pada tahap ini masyarakat lebih menekankan pada masalah kesejahteraan dan upaya masyarakat tertuju untuk menciptakan welfare state, yaitu kemakmuran yang lebih merata kepada penduduknya dengan cara mengusahakan distribusi pendapatan melalui system perpajakan yang progresif. Masyarakat tidak mempermasalahkan kebutuhan pokok lagi tapi konsumsi lebih tinggi terhadap barang tahan lama dan barang-barang mewah.

IV.        Teori Pertumbuhan Ekonomi Harrod-Domar
Teori pertumbuhan Harrod-Domar ini dikembangkan oleh dua ekonom sesudah Keynes yaitu Evsey Domar dan Sir Roy F. Harrod. Teori Harrod-Domar ini mempunyai asumsi yaitu:
a.         Perekonomian dalam keadaan full employment dan barang-barang modal digunakan secara penuh.
b.        Perekonomian terdiri dari dua sektor yaitu sektor rumah tangga dan sektor perusahaan.
c.         Besarnya tabungan proporsional dengan besarnya pendapatan nasional
d.    Kecenderungan untuk menabung (Marginal Propensity to Save = MPS) besarnya tetap, demikian juga ratio antara modal-output (Capital-Output Ratio atau COR) dan rasio pertambahan modal-output (Incremental Capital-Output Ratio atau ICOR)
Menurut Harrod-Domar, setiap perekonomian dapat menyisihkan suatu proporsi tertentu dari pendapatan nasionalnya jika hanya untuk mengganti barang-barang modal yang rusak. Namun demikian untuk menumbuhkan perekonomian tersebut, diperlukan investasi-investasi baru sebagai tambahan stok modal. Hubungan tersebut telah kita kenal dengan istilah rasio modal-output (COR). Dalam teori ini disebutkan bahwa, jika ingin tumbuh, perekonomian harus menabung dan menginvestasikan suatu proporsi tertentu dari output totalnya. Semakin banyak tabungan dan kemudian di investasikan, maka semakin cepat perekonomian itu akan tumbuh (Lincolyn, 2004).

Hubungan tersebut yang kita kenal dengan  istilah modal-output ratio (COR) yaitu 3 berbanding 1. Jika kita menetapkan COR = k , rasio kecenderungan menabung (MPS) = s yang merupakan proporsi tetap dari output total, dan investasi ditentukan oleh tingkat tabungan.

Kelemahan Teori Harrod-Domar
Ada beberapa kelemahan dari teori pertumbuhan Harrod-Domar , yakni :
1.        MPS dan ICOR tidak konstan
Menurut teori ini, kecenderungan untuk menabung (MPS) dan ICOR diasumsikan konstan. Padahal kenyataannya kedua hal tersebut sangat mungkin berubah dalam jangka panjang dan ini tidak berarti memodifikasi persyaratan-persyaratan pertumbuhan yang mantap yang diinginkan.
2.        Proporsi penggunaan tenaga kerja dan modal tidak tetap
Asumsi bahwa tenaga kerja dan  modal dipergunakan dalam proporsi yang tetap tidaklah dapat dipertahankan. Pada umumnya tenaga kerja dapat menggantikan modal dan perekonomian dapat bergerak ke arah pertumbuhan yang mantap.
3.        Harga tidak akan tetap konstan
Model Harrod-Domar mengabaikan perubahan-perubahan harga pada umumnya. Padahal perubahan harga selalu terjadi di setiap waktu dan sebaliknya dapat menstabilkan situasi yang tidak stabil
4.        Suku bunga berubah
Asumsi bahwa suku bunga tidak mengalami perubahan adalah tidak relevan dengan analisis yang bersangkutan. Suku bunga dapat berubah dan pada akhirnya akan mempengaruhi investasi.

V.           Teori Transformasi Struktural
Teori ini berfokus pada mekanisme yang membuat negara-negara miskin dan berkembang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan cara mentransformasi struktur perekonomiannya dari yang semula sektor pertanian yang bersifat tradisional menjadi dominan ke sektor industri manufaktur yang lebih modern dan sektor jasa-jasa. Teori ini dipelopori oleh W. Arthur Lewis.
Menurut Lewis, dalam perekonomian yang terbelakang ada 2 sektor yaitu sektor pertanian dan sektor industri manufaktur. Sektor pertanian adalah sektor tradisional dengan marjinal produktivitas tenaga kerjanya nol. Dengan kata lain, apabila tenaga kerjanya dikurangi tidak akan mengurangi output dari sector pertanian. Sektor industri modern adalah sektor modern dan output dari sektor ini akan bertambah bila tenaga kerja dari sektor pertanian berpindah ke sektor modern ini. Dalam hal ini terjadi pengalihan tenaga kerja, peningkatan output dan perluasan kesempatan kerja. Masuknya tenaga kerja ke sektor modern akan meningkatkan produktivitas dan meningkatkan output

VI.        Teori Pertumbuhan Ekonomi Solow-Swan
Teori ini menjelaskan bagaimana tingkat tabungan dan investasi pertumbuhan populasi dan kemajuan teknologi mempengaruhi tingkat output perekonomian dan pertumbuhannya sepanjang waktu (Mankiw:2000). Dalam teori ini perkembangan teknologi diasumsikan sebagai variabel yang eksogen. Hubungan antara output , modal dan tenaga kerja dapat ditulis dalam bentuk fungsi sebagai berikut.
y = f (k) ........(1)
Dari persamaan (1) terlihat bahwa output per pekerja (y) adalah fungsi dari capital stock per pekerja. Sesuai dengan fungsi produksi yang berlaku hukum “the law of deminishing return”, dimana pada titik produksi awal, penambahan kapital per labor akan menambah output per pekerja lebih banyak, tetapi pada titik tertentu penambahan capital stock per pekerja tidak akan menambah output per pekerja dan bahkan akan bisa mengurangi output per pekerja. Sedangkan fungsi investasi dituiskan sebagai berikut.
i = s f(k) .........(2)
Dalam persamaan tersebut, tingkat investasi per pekerja merupakan fungsi capital stock per pekerja. Capital stock sendiri dipengaruhi oleh besarnya investasi dan penyusutan dimana investasi akan menambah capital stock dan penyusutan akan menguranginya.
Δk = i - γ kt ...............(3),
Dimana ; γ adalah porsi penyusutan terhadap capital stock
Tingkat tabungan yang tinggi akan berpengaruh terhadap peningkatan capital stock dan akan meningkatkan pendapatan sehingga memunculkan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Tetapi dalam kurun waktu tertentu pertumbuhan ekonomi akan mengalami perlambatan jika telah mencapai apa yang disebut steady-state level of capital. Kondisi ini terjadi jika investasi sama dengan penyusutan sehingga akumulasi modal.
Selain tingkat tabungan, pertumbuhan juga dipengaruhi oleh pertumbuhan populasi. Pertumbuhan populasi lebih bisa menjelaskan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Populasi meningkatkan jumlah labor dan dengan sendirinya akan mengurangi capital stock per pekerja. Tingkat pertumbuhan populasi dan tingkat penyusutan secara bersama-sama akan mengurangi capital stock. Pengaruh pertumbuhan populasi secara matematis dapat ditulis sebagai berikut.
Δk = sf(k) - (γ + n) kt, .......................(4)
dimana n adalah tingkat pertumbuhan populasi.
Dalam teori ini diprediksi bahwa negara-negara dengan pertumbuhan populasi yang tinggi akan memiliki GDP perkapita yang rendah (Mankiw : 2000).
Kemajuan teknologi dalam teori Solow dianggap sebagai faktor eksogen. Dalam perumusan selanjutnya fungsi produksi adalah Y =f (K,L,E), dimana E adalah efisiensi tenaga kerja. Selanjutnya y adalah Y/LE dimana LE menunjukkan jumlah tenaga kerja efektif. Pengaruh dari kemajuan teknologi terhadap perubahan modal dapat dirumuskan sebagai
Δk = sf(k) - (γ + n + g) kt, .......................(5)
dimana g menggambarkan kemajuan teknologi melalui efisiensi tenaga kerja. Dampak dari kemajuan teknologi adalah dapat memunculkan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan karena mengoptimalkan efisiensi tenaga kerja yang terus tumbuh.
Menurut teori Solow ada beberapa hal yang dilakukan untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Meningkatkan porsi tabungan akan meningkatkan akumulasi modal dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Selain itu meningkatkan investasi yang sesuai dalam perekonomian baik dalam bentuk fisik maupun non-fisik. Mendorong kemajuan teknologi dapat meningkatkan pendapatan per tenaga kerja sehingga pemberian kesempatan untuk berinovasi pada sektor swasta akan berpengaruh besar dalam pertumbuhan ekonomi.

VII.     Teori Pertumbuhan Endogen
Teori pertumbuhan endogen (endogenous growth theory) merupakan teori yang muncul karena menolak asumsi model Solow tentang pertumbuhan teknologi eksogen. Sebagai ilustrasi dari model pertumbuhan endogen dapat dijelaskan sebagai berikut;
Y = AK ……………… (1)
Dimana Y adalah output, K adalah persediaan modal dan A adalah konstanta yang mengukur jumlah output yang diproduksi untuk setiap unit modal. Terlihat bahwa pada fungsi produsi diatas tidak menunjukkan adanya muatan dari pengembalian modal yang kian menurun. Satu unit modal tambahan memproduksi unit output tambahan A, tanpa memperhitungkan banyak modal disini. Keberadaan pengembalian modal yang kian menurun merupakan perbedaan penting antara model pertumbuhan endogen dengan model Solow.
ΔK = sY – δK ………….. (2)
Persamaan (2) menunjukkan bahwa perubahan pada persediaan modal (ΔK) sama dengan  investasi (sY) dikurangi dengan penyusutan (δK). Dengan menggabungkan antara persamaan (1) dan (2) akan didapatkan
ΔY/Y = ΔK/K = sA – δ ……………… (3)
Persamaan (3) menunjukkan apa yang menentukan pertumbuhan output (ΔY/Y). selama sA > δ , pendapatan perekonomian tumbuh selamanya bahkan tanpa ada asumsi kemajuan teknologi eksogen.
Dalam model Solow, tabungan akan mendorong pertumbuhan sementara, tetapi pengembalian modal yang kian menurun secara berangsur-angsur mendorong perekonomian mencapai kondisi mapan dimana pertumbuhan hanya bergantung pada kemajuan teknologi eksogen. Sebaliknya dalam model pertumbuhan endogen, tabungan dan investasi bisa mendorong pertumbuhan yang berkesinambungan.

VIII.  Teori Supply Side Economic Growth
Selama ini konsep pertumbuhan ekonomi yang dikembangkan terlalu berorientasi pada pengelolaan permintaan aggregate. Martin Feldstein mengembangkan konsep baru yang disebut supply side economic growth. Konsep pertumbuhan ekonomi ini didasarkan pada pandanga ekonomi klasik yang menyatakan output lebih memberikan reaksi terhadap insentif pajak dan faktor-faktor pendapatan setelah pajak, dibandingkan dengan perubahan dalam permintaan aggregate. Martin mengusulkan penekanan yang lebih besar terhadap faktor-faktor yang akan menaikkan pertumbuhan output potensial sepperti menaikkan tabungan dan investasi, memperbaiki peraturan dan pengurangan pajak.
Terjadinya pertumbuhan investasi diakibatkan oleh adanya tabungan. Oleh karena itu seharusnya masyarakat diberi kesempatan untuk bisa menabung. Caranya tentu dengan menaikkan insentif atau imbalan (pendapatan yang diterima masyarakat) yang memadai, sehingga mereka mampu menyisihkan pendapatannya untuk ditabung (ingat S = f(Y), artinya saving ditentukan oleh pendapatan). Adanya kemampuan menabung, tentu jumlah tabungan akan meningkat dan tabungan ini merupakan sumber pendanaa investasi. Meningkatnya investasi akan menimbulkan multiplier investment terhadap pendapatan nasional.
Upaya untuk menaikkan pendapatan yang memadai dan bisa meningkatkan sumber penerimaan negara (berupa pajak) adalah dengan cara menurunkan pajak bukan menaikkan pajak. Sehubungan dengan itu Arthur Laifer menyatakan bahwa tarif pajak yang tinggi akan menurunkan penerimaan pajak itu sendiri. Hal ini disebabkan pajak tinggi akan mempersempit objek pajak, karena aktivitas perekonomian akan semakian rendah.
Oleh sebab itu kunci untuk menciptakan terjadinya pertumbuhan ekonomi adalah kebijakan – kebijakan yang dapat meningkatka aggregate supply atau output nasional yang ditawarkan kepada masyarakat.untuk itu yang perlu dilakukan adalah menaikka insentif dalam kegiatan ekonomi dan menurunkan tarif pajak.




REFERENSI PUSTAKA


Boediono, 1992. Teori Pertumbuhan Ekonomi, Yogyakarta : BPFE
Jhingan, 2000. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Jakarta : Rajawali Press
Mankiw, N.Gregory. 2000. Teori Ekonomi Makro Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta.
Murni, Asfia. 2009. Ekonomika Makro. PT. Refika Aditama. Bandung
Sukirno, Sadono, 2000. Makro Ekonomi Teori Pengantar, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.